Harga Emas Masih Tinggi, Trend Bullish Emas Tetap Berlanjut

Emas menjadi salah satu barang yang paling banyak dicari untuk investasi di zaman sekarang, menurut Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko PT Aneka Tambang TBK Arianto Sabtonugroho Rudjito di Program Closing Bell CNBC Indonesia, Senin (21/4/2025). Ia mengatakan logam mulia tersebut banyak dicari karena terjadinya ketidakstabilan perekonomian dan ketegangan geopolitik dalam satu tahun terakhir, seperti konflik Russia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah-Eropa. Akibatnya volume permintaan atas produk emas semakin banyak diminati dari berbagai kalangan para investor, bank sentral, industri, dan dana yang di perdagangkan di bursa global.

Lalu apa sebenarnya yang membuat harga logam mulia tersebut kian melonjak tiap harinya?

Di kutip dari artikel detikbali, Kamis (17/4/2025). Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga emas mengalami kenaikan:

1. Ketidakpastian Global.

Ketidakpastian ini terjadi karena adanya gejolak politik, ekonomi, krisis, resesi atau bahkan perang. Dan pada saat ini yang terjadi adalah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump semenjak masa jabatan keduanya pada Januari 2025 lalu. Ia menetapkan harga impor yang sangat tinggi hingga mencapai 145% terhadap berbagai barang impor China. Akibatnya stabilitas pasar global terguncang, membuat para investor dan pelaku pasar mengalihkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman, yaitu emas.

2. Penawaran dan Permintaan Emas.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Airlangga, Gigih Prihantono menjelaskan adanya hukum supply dan demand. Ia mengatakan harga emas sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar, ketika permintaan melonjak seperti sekarang, harga otomatis akan meningkat. Namun kondisi ini bersifat fluktuatif dan bisa berubah sewaktu-waktu. 

"Emas itu seperti nilai tukar, bisa turun, bisa naik. Kalau demandnya tinggi, dia akan naik. Kalau demandnya rendah, maka dia akan turun. Itu juga tergantung kondisi perekonomian." Katanya pada detikjatim, Senin (21/4/2025).

Saat ini permintaan investasi emas mulia paling tinggi datang dari Bank Sentral, sejak tahun 2024 total pembelian emas telah mencapai 1.045 ton. Tahun ini, permintaan emas pada bulan Januari lalu telah mencapai 18,5 ton, diperkirakan permintaan emas akan terus naik, mengingat ekspektasi China akan terus melakukan pembelian dengan kecepatan tinggi, selama tiga sampai enam tahun ke depan.

3. Penurunan Suku Bunga oleh The Fed.

Kebijakan Bank Sentarl AS, Federal System atau dikenal The Fed menurunkan suku bunga, dapat membuat harga emas berpotensi naik. Diperkirakan sebelum akhir tahun ini The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga dua kali lagi. Penerapan stagflasi ini membuat para investor tidak lagi tertarik dengan nilai tukar dolar AS, karena nilai mata uang akan turun, sedangkan emas memiliki nilai stabil.

4. Inflasi.

Akibat terjadinya inflasi harga barang melonjak pesat, hal ini karena nilai mata uang menurun, dan berpengaruh terhadap nilai tabungan uang tunai masyakarat yang ada di dalam rekening bank. Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve AS, Jerome Powel menyebutkan. Terjadinya inflasi ini disebabkan oleh kebijakan tarif impor global oleh pemerintah AS ke negara-negara yang dianggap kurang menguntungkan bagi pihak AS.

5. Nilai Tukar Dolar AS.

Ada dua kemungkinan. Pertama, apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, maka harga emas akan naik.

Kedua, apabila nilai tukar rupiah menguat, maka harga emas dalam negeri bisa saja mengalami penurunan.

Michael Armbruster, salah satu pendiri dan mitra pengelola di Pialang Berjangka Altavest, dikutip dari Market Watch mengatakan. Harga logam mulia mencapai pada kenaikan melewati US$ 3.500 per troy ons pada (22/4/2025).

Menurut lembaga keuangan besar, Goldman Sachs, kenaikan harga emas ini diperkirakan akan mencapai puncaknya yaitu, US$ 4.000 per troy ons pada pertengahan tahun 2026, dengan target US$ 3.700 pada akhir 2025.

Lalu apakah sebaiknya masyarakat menyambut kenaikan harga emas tersebut dengan menjual aset lindung nilai yang mereka miliki, atau justru membeli emas?

Terdapat dua pendapat dari para ahli. Pertama, analis emas, Ibrahim Assuaibi, menilai para pemegang emas sebaiknya tetap menyimpan emasnya atau tidak langsung di jual, karena kemungkinan harga emas tersebut akan terus naik. 

Sedangkan, Gigih Prihantono mengatakan masyarakat tidak perlu terus melakukan aksi membeli. 

"Kalau dari saya, mending di jual saja emasnya karena harganya sudah terlalu tinggi." Ujarnya pada detikjatim (21/4/2025).

Masyarakat dihimbau agar lebih bijak dalam mengambil keputusan menjual atau pun membeli emas, dengan terus memantau perkembangan ekonomi global terkini.

Jadi, dapat di simpulkan bahwa trend bullish emas masih terus meningkat. Masyarakat percaya bahwa emas menjadi satu-satunya pilihan untuk mengamankan harta kekayaan mereka.

----

Hasil penelitian ini dilakukan dengan mengutip sumber dari beberapa artikel.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malas Itu Menyenangkan!

Cara Meningkatkan Emotional Intelligence Yang Kita Miliki