Pentingnya Pengawasan Orang Tua Terhadap Ponsel Seluler Yang Dimainkan Anaknya
Pentingnya Pengawasan Orang Tua Terhadap Ponsel Seluler Yang Dimainkan Anaknya.
Perkembangan zaman telah banyak berubah, baik itu membawa dampak positif maupun berdampak negatif. Contoh nya seperti anak-anak yang dulunya hanya mengenal main petak umpet, lompat tali, main kelereng dan kejar-kejaran. Kini telah menjadi hal yang paling membosankan untuk di lakukan oleh seorang anak. Hal ini karena pengaruh dunia IT yang sudah semakin pesat, ponsel yang dulunya hanya digunakan oleh orang tua sebagai alat untuk berkomunikasi saja, kini sudah banyak mengalami perubahan dan peningkatan baik dari segi hardware dan software nya.
Kesalahan pertama yang dilakukan oleh orang tua adalah, terlalu cepat mengenalkan barang IT tersebut kepada anaknya. Banyak sekali kasus yang dapat kita lihat, orang tua menenangkan anaknya dengan menyerahkan benda perangkat seluler tersebut kepada anaknya. Alhasil anak tersebut menjadi terbiasa dengan keberadaan ponsel pintar tersebut. Contoh nyata yang paling banyak kita temui, dan sudah dianggap hal yang lumrah dilakukan adalah, anak berusia 2 tahun sudah dapat bermain hp, walau hanya sekedar mensecroll YouTube yang sedang ditontonnya. Bahkan ada kasus anak tersebut tidak mau tidur dimalam hari karena keasikan melihat video-video YouTube di ponsel milik Ibu atau Ayahnya. Mungkin sebagian orang beranggapan memperkenalkan ponsel pintar kepada anaknya, agar anak tersebut cepat pintar. Yang menjadi pertanyaan nya pintar apa? Bermain ponsel? Bukan kah bermain ponsel tidak perlu les atau kursus? Lalu mengapa masih ada orang yang memakai alasan tidak logis seperti itu.
Anak usia 2 tahun atau bahkan sampai usia 15 tahun, sebaiknya tidak diperkenankan untuk bermain ponsel terlebih dahulu. Kenapa harus seperti itu? Berikut penulis bog akan mengangkat tema tentang penting nya pengawasan orang tua terhadap ponsel yang di mainkan oleh anaknya.
- Ponsel pintar lebih berbahaya dibandingkan dengan sebuah virus. Mengapa? Karena ketika anak-anak yang masih di bawah umur memainkan perangkat lunak tersebut, kita tidak tau pemikiran seperti apa yang telah di bentuk di dalam pemikiran sang anak akibat tontonan atau penggunaan berkepanjangan dari benda canggih tersebut.
- Dapat membuat ingatan anak cepat lupa, dan tidak fokus. Ponsel sama halnya seperti narkotika, semakin sering di gunakan, semakin ketergantungan kita pada benda tersebut. Apalagi anak-anak yang memang masih dalam masa pertumbuhan, belum bisa memilah dan memilih mana yang baik dan tidak bagi dirinya.
- Stress. Ya, bermain ponsel dapat meningkatkan hormon stress pada diri seseorang, hal ini karena penggunaan yang lama dan berjam-jam membuat energi tubuh seseorang terkuras, dan merasa lelah. Kita saja bisa seperti itu, bayangkan bagaimana jadinya terhadap anak-anak.
- Radiasi. Ini adalah yang paling berbahaya, perangkat IT seperti ponsel memiliki radiasi yang tinggi, dimana dampak dari radiasi tersebut dapat merusak kesehatan manusia. Bisa jadi efeknya pada mata yang mengalami kerabunan, hingga tahap berkelanjutan sampai mengalami kebutaan.
- Dapat memberikan sydrom. Poin ini sama seperti yang dijelaskan pada poin kedua tadi. Anak-anak yang sudah terbiasa bermain ponsel, akan mengalami sydrom seperti tidak dapat hidup jika tidak bermain ponsel. Aneh tapi itulah kenyataannya. Ponsel bukan benda hidup, tidak bisa memberikan nafas untuk penggunaannya, tetapi pengaruhnya sangat besar dalam kontribusi kehidupan manusia.
Lalu bagaimana cara mengatasi hal tersebut terjadi pada anak kita? Untuk itu penulis blog juga menuliskan beberapa tips yang dapat bunda/Ayah gunakan pada anak-anak yang sudah terlanjur mengenal ponsel pintar tersebut.
- Batasi waktu pemakaian ponsel pada anak. Misal setelah mereka menonton YouTube selama 15 atau 30 menit, bunda atau ayah dapat mengakali anak-anak yang berusia dini, dengan mengatakan ponsel tersebut kehabisan baterai, dan tidak dapat digunakan jika belum di charge.
- Menyambung pembahasan poin 1, semakin bertambah usia anak-anak, apalagi anak-anak yang menggunakan ponsel. Tentu mereka tidak akan percaya lagi dengan apa yang Bunda/Ayah katakan kepada sang anak. Maka dari itu, tips yang kedua adalah memberikan pemahaman kepada anaknya. Gunakan bahasa yang dapat dimengerti seorang anak, tanpa perlu mengeraskan suara. Berikan pemahan yang mampu membuat anak tersebut mengerti dengan keinginan orang tuanya.
- Dan terakhir adalah, awasi setiap Aplikasi berbasis software yang digunakan oleh anaknya. Bunda/Ayah juga dapat mengatur settingan pada ponsel terkait berapa jam anak tersebut dapat menggunakan Aplikasi yang berada di dalam ponselnya. Jangan lupa untuk memberi pemahaman agama terhadap anaknya, agar anak tersebut tidak menggunakan media ponsel untuk hal-hal yang dapat menjerumuskan nya pada perbuatan negatif.
Demikianlah yang dapat di sampaikan penulis, semoga hal ini dapat membantu membuka pikiran Bunda & Ayah. Semoga bermanfaat.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar